Trump Tak Dukung Netanyahu, Jaga Jarak atau Retak Hubungan?
Trump tak memberi endorsement kepada Netanyahu jelang Pemilu Israel. Ia tetap dukung Israel, tetapi sikapnya memunculkan tanda tanya soal hubungan keduanya.
Washington - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memilih tidak memberikan dukungan politik terbuka kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjelang pemilu Israel yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober mendatang. Sikap tersebut muncul ketika Trump ditanya apakah Netanyahu masih layak memimpin pemerintahan Israel untuk periode berikutnya.
Dalam wawancara eksklusif dengan majalah TIME, sebagaimana dikutip dari Middle East Monitor, Jumat (2/10/2026), Trump tidak memberikan endorsement kepada Netanyahu. Ia justru mengarahkan pembicaraan pada hubungannya dengan publik Israel dan menyebut keinginannya untuk membantu Israel.
Sikap tersebut menarik perhatian karena Trump selama ini dikenal memiliki hubungan dekat dengan pemerintahan Netanyahu. Namun, ketika pertanyaan diarahkan secara spesifik pada dukungan terhadap Netanyahu dalam pemilu, Trump memilih tidak memberikan jawaban tegas.
"Tidak, hal utama saya, saya memang ingin membantu mereka membela Israel," tegas Trump.
Pernyataan itu membuat posisi Trump terlihat berbeda antara dukungan terhadap Israel secara umum dan dukungan politik terhadap Netanyahu sebagai kandidat pemimpin.
Trump Tak Memberikan Endorsement untuk Netanyahu
Ketika ditanya apakah Netanyahu layak kembali memimpin Israel, Trump awalnya menjawab dengan menghindari pertanyaan mengenai arah dukungan politiknya.
"Yah, saya hanya bisa mengatakan bahwa saya tidak lagi terlibat dalam politik, kecuali bahwa kami populer," ujar Trump.
Ketika kembali didesak mengenai posisinya dalam Pemilu Israel, Trump tetap tidak memberikan endorsement resmi kepada Netanyahu.
Pada kesempatan yang sama, Trump justru menyinggung tingkat popularitasnya sendiri di Israel. Ia menyatakan tingginya simpati publik Israel terhadap dirinya berkaitan dengan kebijakan-kebijakan tegas yang telah diambil Washington.
Trump juga ditanya mengenai kemungkinan munculnya figur lain dalam persaingan politik Israel, termasuk mantan Kepala Staf Militer Israel Gadi Eisenkot.
Trump mengatakan dirinya belum mendengar hal-hal buruk mengenai Eisenkot. Namun, ia juga memperingatkan agar Netanyahu tidak terlalu cepat dianggap tersingkir dari persaingan.
"Orang-orang telah meremehkan Bibi berkali-kali, sama seperti mereka meremehkan saya berkali-kali. Saya tidak akan meremehkan Bibi," kata Trump.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa meski Trump tidak memberikan dukungan terbuka kepada Netanyahu, ia juga belum mengambil posisi untuk menyingkirkan atau meremehkan peluang politik perdana menteri Israel tersebut.
Trump Menjauh dari Netanyahu atau Sedang Menjaga Jarak Politik?
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah sikap Trump tersebut menandakan keretakan hubungan dengan Netanyahu atau sekadar bentuk kehati-hatian politik menjelang pemilu Israel.
Dari pernyataan Trump dalam wawancara tersebut, belum terlihat adanya penolakan terhadap Israel sebagai sekutu. Sebaliknya, Trump secara eksplisit mengatakan bahwa dirinya ingin membantu Israel dalam mempertahankan diri.
Yang berubah adalah cara Trump menempatkan Netanyahu dalam hubungan tersebut. Trump tidak mengatakan akan mendukung Netanyahu untuk kembali memimpin, meskipun tetap menyatakan tidak akan meremehkannya.
Perbedaan itu menjadi penting karena dukungan terhadap Israel dan dukungan kepada seorang tokoh politik bukanlah hal yang sama. Dalam wawancara tersebut, Trump tampak mempertahankan komitmen terhadap Israel, tetapi tidak memberikan komitmen politik yang sama kepada Netanyahu.
Sumber juga menyebut adanya laporan diplomatik mengenai hubungan Trump dan Netanyahu yang semakin tegang dalam beberapa bulan terakhir. Ketegangan itu dikaitkan dengan dinamika perang di Iran serta gempuran militer Israel yang terus berlangsung di Lebanon dan Gaza.
Dengan demikian, terdapat dua fakta yang berjalan bersamaan. Di satu sisi, Trump masih menyatakan keinginannya membantu Israel. Di sisi lain, ia tidak memberikan endorsement kepada Netanyahu dan sumber menyebut adanya ketegangan dalam hubungan kedua pemimpin tersebut.
Baca Juga: AI Keluar Jalur dan Ubah Dunia Kerja, Apa yang Terjadi?
Sikap Trump terhadap Iran Tetap Keras
Di luar persoalan pemilu Israel, wawancara Trump dengan TIME juga memperlihatkan bahwa sikapnya terhadap konflik Timur Tengah tetap keras, khususnya terkait Iran.
Trump bahkan mengatakan dirinya tidak menutup kemungkinan mengambil tindakan ekstrem terhadap Iran demi mengakhiri konflik di kawasan tersebut.
"Dengan memusnahkan Iran, kita menciptakan perdamaian dunia," klaim Trump.
Menurut Trump, keberadaan rezim Iran menjadi hambatan utama bagi terciptanya stabilitas di kawasan maupun secara global.
"Dengan adanya Iran, menurut saya perdamaian tidak akan pernah bisa terwujud," pungkasnya.
Pernyataan tersebut menempatkan persoalan Iran sebagai bagian lain dari sikap Trump terhadap dinamika Timur Tengah. Sementara terhadap Israel, ia tetap menyatakan dukungannya untuk membantu negara tersebut, tetapi memilih tidak memberikan endorsement kepada Netanyahu menjelang pemilu.
Karena itu, berdasarkan pernyataan Trump yang tersedia dalam wawancara tersebut, belum ada pernyataan langsung bahwa ia memutus dukungan terhadap Israel ataupun secara terbuka berseberangan dengan Netanyahu. Yang terlihat jelas adalah Trump mengambil jarak dari keputusan untuk memberikan dukungan politik kepada Netanyahu, sembari tetap mempertahankan pernyataan dukungan terhadap Israel.
Posisi tersebut membuat arah hubungan politik Trump dan Netanyahu menjadi salah satu hal yang perlu dilihat dalam perkembangan menjelang pemilu Israel pada 27 Oktober.
0 Komentar