Jakarta - Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini berada di kisaran 5,2 persen hingga 5,4 persen. Proyeksi tersebut muncul di tengah perkiraan perlambatan ekonomi global dan sejumlah tantangan domestik yang perlu dihadapi Indonesia.

Pada saat yang sama, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen pada 2027 sebagai bagian dari upaya mencapai target pertumbuhan 8 persen pada 2029. Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengatakan target tersebut perlu didukung peningkatan produktivitas dan perluasan lapangan kerja.

Wakil Ketua DEN Mari Elka Pangestu menyampaikan proyeksi ekonomi tersebut dalam Memorial Lecture di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta, Kamis. Ia mengatakan perekonomian global dan Indonesia dalam jangka pendek diperkirakan mengalami perlambatan.

DEN Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026

Mari mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I dan kuartal II relatif tinggi. Namun, pertumbuhan pada kuartal III dan kuartal IV diperkirakan menurun.

Ia menyebut perkiraan pertumbuhan Indonesia dari IMF berada di angka 5 persen, sedangkan prediksi pemerintah berada di angka 5,6 persen.

“Rata-rata pertumbuhan kita, kalau perkiraan dari IMF kita tumbuh 5 persen, tapi prediksi pemerintah sendiri 5,6 persen. Nanti apakah pertumbuhannya 5,6 persen atau 5 persen atau antara itu, itu mungkin yang akan menjadi outlook untuk tahun ini,” kata Mari.

Dalam pidatonya, Mari juga merefleksikan pemikiran Frans Seda yang pernah menjabat Menteri Keuangan pada periode 1966-1968. Menurut Mari, Frans Seda menghadapi kondisi sulit dengan keberanian politik, disiplin fiskal, serta upaya menciptakan ruang fiskal baru untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Pengalaman tersebut disebut menjadi pembelajaran dalam menghadapi tantangan ekonomi Indonesia ke depan.

Mari mengingatkan kondisi tahun depan dapat semakin sulit apabila tidak terdapat kebijakan yang tepat. Terlebih, menurut dia, Indonesia akan menghadapi kondisi El Nino dan La Nina.

“Tapi tanpa ada the right policies, ruang kebijakan yang diambil ala prinsip-prinsip yang dikembangkan oleh Pak Frans Seda, mungkin tahun depan akan menjadi tambah sulit, apalagi kita akan menghadapi El Nino dan La Nina,” kata Mari.

Tekanan Global dan Tantangan Domestik

Mari menjelaskan Indonesia saat ini menghadapi sejumlah tantangan secara bersamaan.

Dari sisi eksternal, ketidakpastian ekonomi global dipengaruhi kebijakan tarif Amerika Serikat, ketegangan Amerika Serikat dan Tiongkok, serta kenaikan harga minyak akibat krisis Selat Hormuz. Kondisi tersebut berpotensi memberikan dampak terhadap perekonomian dan fiskal Indonesia.

Dari sisi domestik, tantangannya mencakup peningkatan daya saing, ketimpangan wilayah, serta penciptaan lapangan kerja yang layak.

Bonus demografi yang dimiliki Indonesia juga menjadi perhatian. Menurut Mari, bonus demografi dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi, tetapi berpotensi menjadi persoalan apabila tidak diikuti penciptaan lapangan pekerjaan dan pendapatan yang memadai.

Meski menghadapi berbagai tekanan, Mari melihat terdapat peluang ekonomi yang dapat dikembangkan, terutama melalui transisi hijau atau energi serta perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau AI.

Ruang Fiskal dan Penerimaan Pajak Jadi Perhatian

Dari sisi fiskal, kenaikan harga minyak dan rendahnya tax ratio dinilai dapat meningkatkan tekanan terhadap anggaran, terutama melalui kenaikan subsidi energi.

Tekanan tersebut pada akhirnya dapat mempersempit ruang fiskal yang dapat digunakan sebagai bantalan ketika terjadi berbagai guncangan ekonomi.

Mari mengingatkan pemerintah perlu mengelola ruang fiskal dengan tetap memperhatikan keberlanjutan utang. Menurut dia, utang tetap diperlukan untuk membiayai defisit, tetapi penggunaannya perlu diarahkan untuk mendukung pemulihan sekaligus menjaga keberlanjutan fiskal.

Pada sisi penerimaan, peningkatan tax-to-GDP ratio disebut penting untuk memperluas ruang fiskal. Mari menilai ruang fiskal tidak dapat berkembang tanpa peningkatan penerimaan.

Karena itu, pemerintah dinilai perlu meningkatkan kepatuhan pajak melalui peran Coretax sekaligus memperluas basis pajak.

Sementara dari sisi belanja, efisiensi dan prioritas pengeluaran perlu dilakukan melalui spending review dan digitalisasi pemerintah.

Reformasi subsidi BBM juga diperlukan agar subsidi lebih tepat sasaran. Penghematan dari kebijakan tersebut dapat dialihkan untuk kebutuhan lain seperti kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur.

Pemerintah Bidik Pertumbuhan 6 Persen pada 2027

Di tengah proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini, pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2027.

Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengatakan angka tersebut perlu dicapai sebagai bagian dari upaya mencapai target Presiden Prabowo Subianto, yakni pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pada 2029.

Menurut Juda, pertumbuhan ekonomi perlu ditingkatkan setiap tahun. Salah satu alasannya adalah Indonesia sedang berada dalam fase bonus demografi dengan penduduk yang masih muda dan produktif.

“Sekarang ini kita dalam fase bonus demografi, artinya kita punya potensi dari sisi SDM-nya, karena penduduknya masih muda dan masih produktif. Kalau kita tumbuh gini-gini saja, kemudian di tahun 2035, 2040, atau 2045 penduduk kita sudah menua maka tidak ada harapan lagi kita bisa tumbuh tinggi,” ujar Juda dalam acara Media Gathering di Bogor, Kamis (1/10/2026).

Juda menilai target pertumbuhan 6 persen pada 2027 dan 8 persen pada 2029 merupakan visi yang harus dicapai dalam periode yang tidak terlalu lama.

“Artinya apa? Kita bisa tua sebelum kaya. Inilah visi. Jadi, angka 6% tahun depan, 8% di 2029 ini adalah sebuah visi yang memang harus kita capai di periode yang tidak terlalu lama lagi. Mungkin 10-15 tahun kemudian,” lanjutnya.

Bonus Demografi dan Risiko Penduduk Menua

Selain bonus demografi, Juda menyoroti peningkatan angka harapan hidup masyarakat Indonesia.

Menurut dia, peningkatan life expectancy akan membuat penduduk usia muda nantinya menanggung beban pembiayaan penduduk yang semakin menua.

“Saat ini saja penduduk kita sudah mulai kelihatan life expectancy-nya (angka harapan hidup) terus meningkat. Artinya, yang muda ini akan menanggung beban membiayai yang aging, yang tua. Ini jadi pertumbuhan ekonominya menjadi masuk ke yang sering disebut dengan middle income trap,” bebernya.

Karena itu, peningkatan pertumbuhan ekonomi dinilai menjadi penting ketika Indonesia masih memiliki jumlah penduduk usia muda yang tinggi.

Juda menilai pertumbuhan ekonomi yang tidak meningkat sementara penduduk terus memasuki usia lebih tua dapat membuat peluang untuk mencapai pertumbuhan tinggi semakin terbatas.

Produktivitas dan Lapangan Kerja Jadi Kunci

Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi menuju target 6 persen pada 2027, Juda menyebut produktivitas perlu ditingkatkan.

Peningkatan produktivitas tersebut juga perlu disertai dengan perluasan lapangan kerja. Menurut Juda, jumlah penduduk muda yang tinggi harus diimbangi dengan ketersediaan pekerjaan yang memadai agar mereka dapat bekerja dan menjadi produktif.

“Produktivitas harus kita tingkatkan, lapangan kerja perlu diperluas. Kalau penduduk kita muda, berarti ketersediaan lapangan kerja harus tinggi supaya mereka bisa kerja, supaya mereka bisa produktif. Jadi, ini memang sebuah tantangan sekaligus sebuah visi,” tutup Juda.

Sementara itu, dari sisi moneter, Mari mengingatkan ruang penurunan suku bunga domestik untuk mendorong pertumbuhan dan investasi juga terbatas karena suku bunga global meningkat akibat tekanan inflasi.

Menurut Mari, kondisi tersebut membuat dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi perlu datang dari perubahan kebijakan struktural.

“Jadi kebijakan moneter pun tidak akan terlalu bisa membantu growth dan investasi. Jadi harus datang dari perubahan-perubahan kebijakan struktural,” kata Mari.

Dengan demikian, proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 berada di tengah berbagai tekanan global dan domestik, sementara target 6 persen pada 2027 dan 8 persen pada 2029 membutuhkan peningkatan produktivitas serta perluasan lapangan kerja.